Indonesia adalah negeri kaya sumber daya alam. Jumlah tenaga geothermal atau panas bumi negeri merupakan 40 persen dari yang ada di seluruh dunia. Tapi resikonya juga besar. Berdiri di jalur lingkaran "cincin api" atau ring of fire membuat negeri ini jadi langganan bencana. Dari letusan gunung hingga gempa.
Merapi adalah satu dari gunung berapi di negeri ini yang paling sering erupsi. Para ahli gunung berapi mengelompokannya dalam gunung berapi yang sering meletup itu dalam kategori A. Sedang gunung berapi yang tidak aktif dikelompokan dalam gunung kategori B.
Sejumlah gunung berapi tipe A itulah yang selama ini diawasi oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Dengan meletusnya Gunung Sinabung yang masuk kategori B, Minggu 29 Agustus lalu, maka pemerintah juga sudah mewaspadai gunung kategori B.
Dan kini delapan gunung kategori A, sudah masuk dalam tahap waspada. Gunung-gunung itu adalah Sinabung, Gunung Talang, Gunung Anak Krakatau, Gunung Papandayan, Gunung Slamet, Gunung Dieng, Gunung Semeru, dan Gunung Bromo.
Ada satu gunung lagi yang lebih tinggi levelnya yakni Gunung Karangetang di Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara. Gunung ini berstatus Siaga. Gunung ini pernah meletus pada Jumat 6 Agustus 2010. Merapi, Karangetang dan 8 delapan gunung itu, kini dipantau ketat pemerintah.
Gunung yang juga sering erupsi adalah Semeru di Jawa Timur. Semeru kini giat membangun kubah lava, yang terkadang diikuti guguran lava pijar dan hujan abu. Pemerintah Jawa Timur tak mau kecolongan. Kini mereka bersiaga menghadapi segala kemungkinan terburuk – pasca meletusnya Merapi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Jawa Timur, sudah melakukan sejumlah langkah.
Bumi bergerak
Memang tak ada kaitan antara letusan Gunung Merapi dengan peningkatan aktivitas delapan gunung itu. Namun, dinamika bumi bisa membuat gunung-gunung itu saling terkait.
Bumi yang kita huni ini terus bergerak. Dan pergerakan itu, tidak bisa diprediksi, tapi bisa saja membuat meningkatkan aktivitas gunung-gunung itu secara bersamaan. Konsekuensi pergerakan lempengan dan gempa tektonik bisa memicu letusan gunung berapi. Gempa bumi tektonik bisa merangsang letusan gunung berapi. Batavia, yang kini bernama Jakarta, pernah babak belur dihajar gempa. Dua diantaranya terjadi tahun 1699 dan tahun 1883. Gempa tahun 1699 diikuti letusan Gunung Salak. Gempa tahun 1883 diikuti amukan Krakatau.(VIVAnews)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar